Wednesday, October 3, 2018

Potret Awal Komunitas Ammatoa


  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

Diantara suku yang ada di Indonesia, di Provinsi Sulawesi Selatan, kabupaten Bulukumba, Kecamatan Kajang, terdapat satu kelompok masyarakat yang kokoh memegang tradisinya.mereka dalam tulisan ini disebut komunitas ammatoa. Kurang menerima hal-hal di luar apa yang mereka dengar atau ketahui dari generasi sebelumnya. Sikap dan pola pikir dalam menghadapi kehidupan ini berorientasi pada kepasrahan dan menerima nasib apa adanya. Sikap ini agaknya kurang cocok dengan jiwa pembangunan yang sedang digalakkan di negeri ini. Ketidakcocokan dengan jiwa pembangunan itu masih merupakan hipotesis, dugaan sementara yang perlu pembuktian.

Komunitas ammatoa mudah dikenal menampakkan ciri-ciri yang membedakannya dari kelompok sosial lainnya. Spesifikasinya bukan saja nampak pada atribut yang digunakan, seperti: baju celana yang hampir menyentuh lutut, sarung, daster ( ikat kepala bagi kaum lelaki) yang semuanya berwarna hitam, menggunakan kuda sebagai sarana transportasi.

Spesifikasi mereka merupakan akibat tak langsung dari keterisoliran dari"dunia luar". Disamping oleh sistem nilai yang mereka anut memuat sejumlah pantangan yang apabila tidak diindahkan akan menyebabkan hal-hal yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa konjo ( bahasa yang digunakan orang kajang) disebut husung ( ganjaran yang berakibat sanksi sosial sekaligus dipercaya akan berakibat buruk di "alam sana" bagi yang melakukannya).

Sikap hidup dengan sengaja mengisolir diri dengan maksud supaya terhindar dari perbuatan/tindakan yang tidak di pasangkan. Dan dengan mengutamakan kehidupan yang miskin di dunia agar memperoleh imbalan "kekayaan" dari "Tuhan" dihari kemudian, disebut prinsip kamase-mase.

Kamase-mase adalah suatu konsepsi dengan muatan: lambusu', gattang, sa'bara, dan apisona atau jujur. Tegas sabar dan pasrah separah parahnya. Prinsip ini diselimuti oleh ikatan-ikatan emosi yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kepercayaan karena mengandung nilai-nilai keramat yang disertai "imbalan" dan "sanksi" yang juga keramat.

Dengan adanya keengganan semacam itu bukan berarti mereka tertutup tetapi lebih merupakan sikap sangat berhati-hati dan selektif. Sikap semacam inilah yang dianggap oleh orang luar sebagai "Kolok" dan mengakibatkan "keterbelakangan" ( sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan); dan ternyata dalam realitas sosial mereka sepintas memperlihatkan keadaan seperti itu.

No comments:

Post a Comment