Sunday, July 28, 2013

SEJARAH PERANG DUNIA 1


  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

Perang Dunia I atau Perang Dunia Pertama, disingkat PD I, dan istilah-istilah dalam bahasa Inggris lainnya : "Great War", "War of the Nations", dan "War to End All Wars" (Perang untuk Mengakhiri Semua Perang) adalah sebuah konflik dunia yang berlangsung dari 28 Juli 1914 hingga 11 November 1918, 

Pihak Yang Terlibat :


Blok Sekutu

Flag of Russia.svgRusia
Flag of France.svgPerancis
Flag of the United Kingdom.svgBritania Raya
Flag of Canada-1868-Red.svgKanada
Flag of Italy (1861-1946).svgItalia
US flag 48 stars.svgAmerika Serikat

Negara-negara yang bergabung :

1. Kerajaan Serbia
2. Kerajaan Rusia (sampai November 1917)
3. Perancis (termasuk pasukan dari negara koloni Perancis)
4. Kerajaan Inggris :
1. Negara Persemakmuran Inggris dan Irlandia
2. Australia
3. Kanada
4. Selandia Baru
5. Newfoundland
6. Afrika Selatan
7. Kerajaan India
8. Negara boneka dan koloni Inggris
5. Kerajaan Belgia (termasuk pasukan negara koloni Belgia)
6. Kerajaan Montenegro
7. Kekaisaran Jepang
8. Kerajaan Italia (April 1915 dan sesudahnya)
9. Portugal
10. Kerajaan Romania (Agustus 1916 dan sesudahnya)
11. Kerajaan Yunani (Mei 1917 dan sesudahnya)
12. Amerika Serikat (1917 dan sesudahnya)
13. San Marino
14. Andorra
15. Tiongkok
16. Brazil
17. Bolivia
18. Kosta Rika
19. Kuba
20. Guatemala
21. Haiti
22. Honduras
23. Ekuador
24. Nikaragua
25. Uruguay
26. Panama
27. Peru
28. Siam
29. Liberia
30. Republik Demokratik Armenia (1918)
31. Cekoslowakia (1918)

Blok Sentral

Flag of the Habsburg Monarchy.svgAustria-Hungaria
Flag of the German Empire.svgJerman
Flag of Turkey.svgKekaisaran Ottoman
Naval Ensign of Bulgaria (1878-1944).svgBulgaria


Latar Belakang

PD I dimulai setelah Pangeran Franz Ferdinand dari Austro-Hongaria (sekarang Austria) beserta istrinya, dibunuh di Sarajevo, Bosnia, oleh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip. Bosnia merupakan kawasan Austria yang dituntut oleh Serbia, salah satu negara kecil di Semenanjung Balkan, dimana pembunuhan tersebut telah direncanakan sebelumnya.

Dengan bantuan Jerman, Austria-Hungaria memutuskan perang terhadap Serbia. Tidak pernah terjadi sebelumnya konflik sebesar ini, baik dari jumlah tentara yang dikerahkan dan dilibatkan, maupun jumlah korbannya.




Senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman massal warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak dari pembunuhan massal berskala besar pertama abad 19 berlangsung saat perang ini. Empat dinasti, Habsburg, Romanov, Ottoman, dan Hohenzollern, yang memiliki akar kekuasaan hingga zaman Perang Salib, seluruhnya jatuh setelah perang.

Austria-Hungaria menyerang Serbia pada 28 Juli 1914. Rusia membuat persediaan untuk membantu Serbia dan diserang oleh Jerman. Perancis pun turut membantu Rusia dan diserang oleh Jerman. Untuk tiba di Paris dengan secepat mungkin, tentara Jerman menyerang Belgia, dan kemudian Britania menyerang Jerman.




Pada awalnya, Jerman memenangkan peperangan tersebut, akan tetapi Perancis, Britania, serta Rusia terus menyerang. Jerman, Austria-Hungaria, dan sekutunya disebut "Blok Sentral", dan negara-negara yang menentang mereka disebut "Blok Sekutu".

Sewaktu peperangan berlanjut, negara lain pun turut campur tangan. Hampir semuanya memihak kepada Sekutu. Pada tahun 1915, Italia bergabung dengan Sekutu karena ingin menguasai tanah Austria. Dan pada tahun 1917, Amerika Serikat memasuki peperangan, dan memihak kepada Sekutu.




Meskipun Tentera Sekutu sangat kuat, Jerman terlihat seperti akan memenangkan peperangan tersebut. Setelah 1914, Jerman pun menguasai Luxemburg, hampir seluruh daratan Belgia, serta sebagian dari Perancis utara.

Jerman juga menang di Barisan Timur, ketika usaha Rusia gagal. Akan tetapi, menjelang tahun 1918, tentara Jerman mengalami kelelahan. Perbekalannya tidak mencukupi dan timbul pergolakan sosial di dalam negerinya sendiri.




Pada waktu yang sama, semakin banyak tentara Amerika Serikat yang baru tiba dan langsung bergabung kepada Sekutu. Pada musim panas 1918, tentera Amerika Serikat membantu menghalau serangan Jerman terakhir di barat. Jerman pun menandatangani perjanjian gencatan senjata pada 11 November 1918.


Perjanjian Versailles




Di dalam Perjanjian Versailles yang ditandatangani setelah Perang Dunia I, pada 12 Januari 1919, Jerman menyerahkan tanah-tanah jajahannya dan sebagian dari wilayah Eropa-nya. Polandia dibebaskan dan mendapat wilayah Posen (sekarang kota Poznan), sebagian Silesia, serta sebagian lagi Prussia Barat.

Alsace dan Lorraine yang dikuasai oleh Jerman dikembalikan ke Perancis. Perancis juga dapat menguasai kawasan Saar selama 15 tahun. Perjanjian ini juga meletakkan Rhineland dibawah pendudukan Tentera Sekutu selama 15 tahun. Jumlah pasukan tentara Jerman di perkecil tidak melebihi 100.000 orang, serta dilarang memiliki pasukan udara. Jerman juga harus membayar pampasan perang kepada Tentara Sekutu sebesar £6.600 juta.

Diperkirakan 8.6 juta korban jiwa dalam Perang Dunia I. Blok Sekutu kehilangan 5.1 juta jiwa, sementara Blok Sentral 3.5 juta jiwa. PD I tersebut mengakibatkan kehancuran yang sangat besar terhadap negara-negara yang terlibat, yang dikenal dengan "Perang Untuk Mengakhiri Semua Perang" sehingga terjadilah Perang Dunia II (
PD II).


Puncak Perang Dunia I




Perang Dunia I menjadi saat pecahnya orde dunia lama, menandai berakhirnya monarki absolutisme di Eropa. Ia juga menjadi pemicu Revolusi Rusia, yang akan menginspirasi revolusi lainnya di negara-negara lain, seperti : Tiongkok dan Kuba, serta akan menjadi basis bagi Perang Dingin antara Uni Soviet dan AS.




Kekalahan Jerman dalam perang ini dan kegagalan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung yang telah menjadi sebab terjadinya Perang Dunia I, akan menjadi dasar kebangkitan Nazi, dan dengan itu pecahnya Perang Dunia II pada 1939. Ia juga menjadi dasar bagi peperangan bentuk baru yang sangat bergantung kepada teknologi, dan akan melibatkan non-militer dalam perang, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Parit Perlindungan




Perang Dunia menjadi terkenal dengan peperangan parit perlindungannya, di mana sejumlah besar tentara dibatasi geraknya di parit-parit perlindungan dan hanya bisa bergerak sedikit karena pertahanan yang ketat.




Ini terjadi khususnya terhadap Front Barat. Lebih dari 9 juta jiwa meninggal di medan perang, dan hampir sebanyak itu juga jumlah warga sipil yang meninggal akibat kekurangan makanan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tak sengaja dalam suatu pertempuran.


Front Timur




Front Timur adalah Front dimana Jerman berhadapan dengan Russia. Pada awalnya Jerman dapat mengalahkan Russia, meskipun Russia melancarkan Mobilisasi yang menyebabkan ekonomi Russia terbengkalai.




Dan nantinya mencetus Revolusi Russia. Tapi karena musim dingin di Russia, dan tentara Jerman tidak dilengkapi pakaian musim dingin, akhirnya Russia menang.


Korban Jiwa Akibat PD I




Sekutu : 5.497.600
• Belgia: 13.700
• Kekaisaran Britania: 908.000
o Australia: 60.000
o Kanada: 55.000
o India: 25.000
o Selandia Baru: 16.000
o Afrika Selatan: 7.000
o Inggris: 715.000
• Perancis: 1.354.000
• Yunani: 5.000
• Italia: 650.000
• Jepang: 300
• Rumania: 336.000
• Rusia: 1.700.000
• Serbia: 450.000
• AS: 50.600

Terluka: 12.831.000
Hilang: 4.121.000


Sentral : 3.382.500
• Austria-Hungaria: 1.200.000
• Bulgaria: 87.500
• Jerman: 1.770.000
• Kerajaan Ottoman: 325.000

Terluka: 8.388.000
Hilang: 3.629.000


Warga Sipil : 6.493.000
• Austria: 300.000
• Belgia: 30.000
• Inggris: 31.000
• Bulgaria: 275.000
• Perancis: 40.000
• Jerman: 760.000
• Yunani: 132.000
• Rumania: 275.000
• Rusia: 3.000.000
• Serbia: 655.000
• Kerajaan Ottoman: 1.005.000


Daftar Pertempuran Pada Perang Dunia I

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/e/e5/Foto_PDI_warna2.jpg/300px-Foto_PDI_warna2.jpg


Ini adalah Daftar pertempuran pada Perang Dunia I yang meliputi keterlibatan angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara serta kampanye, operasi, garis pertahanan dan pengepungan. Kampanye umumnya merujuk kepada operasi strategis yang lebih luas dilakukan selama jangka waktu yang panjang.

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:H3ZT9lJJXmdBrM::&t=1&usg=__quHyx0kTCtI3ooRGQIQ5S8g0_Bo=


Pertempuran umumnya mengacu pada periode pendek yang intens memerangi terlokalisasi untuk wilayah tertentu dan selama jangka waktu tertentu. Namun, penggunaan istilah dalam penamaan peristiwa semacam itu tidak konsisten. Sebagai contoh, Pertempuran Atlantik Pertama lebih atau kurang seluruh teater perang, dan yang disebut pertempuran, berlangsung selama seluruh perang.


  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

TEORI PEMBANGUNAN



  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

Teori-teori dalam pembangunan politik memiliki tipe: Pertama; berasosiasi dengan gagasan demokrasi, Kedua; terfokus pada aspek-aspek pembangunan dan perubahan politik, Ketiga; menguji krisis dan konsekuensi pembangunan politik. Pembangunan politik bagaimanapun juga harus diimbangi dengan pemerintahan yang kuat dan kewenangan yang teratur. Pertanyaan berkisar pada derajat kebebasan pers, sistem partai, kebiasaan pemberian suara, standar hidup. Kondisi demokrasi menyertakan suatu sistem kelas terbuka, kesejahteraan ekonomi, ekonomi kapitalis, semakin tinggi tingkat industrialisasi, pendidikan, kesejahteraan, semakin besar pula prospek demokrasi.
Ketika pemerintahan berkembang lewat peningkatan pembedaan, krisis kesetaraan dan kapasitas maka dapat menimbulkan situasi krisis identitas, legitimasi, partisipasi, penetrasi dan distribusi.
Krisis identitas berhubungan dengan budaya massa dan elite dalam pengertian perasaan nasional mengenai wilayah, pembelahan mengenai wilayah yang mengrogoti kesatuan nasional dan konflik antar loyalitas etnik dengan komitmen nasional. Krisis legitimasi tumbuh karena perbedaan mengenai kewenangan. Krisis partisipasi adalah sebuah konflik yang terjadi ketika elite yang memerintah memandang pemerintah dan prilaku individu dan kelompok yang mencoba berpartisipasi dalam sistem politik sebagai tidak berlegitimasi. Krisis penetrasi dicirikan oleh tekanan pada elite yang memerintah untuk membuat adaptasi atau inovasi institusional dengan keragaman tertentu. Krisis distribusi dianalisis dalam pengertian masalah-masalah seperti ideologi, sumberdaya fisik dan manusia serta lingkungan institusional.

MODERNISASI

A. Teori Tahap dan Modernisasi
Setelah perang dunia ke II, kepentingan negara kapitalis barat terhadap negara baru tidak hanya berfokus pada keuntungan, ekstradisi bahan mentah dan pasar baru, namun juga pada asumsi bahwa dampingan keuangan dan teknis yang massif akan mentransformasi masyarakat pertanian subsistem ke masyarakat industri modern.
Pendukung yang paling berpengaruh pada tori ini adalah sejarahwan ekonomi Amerika Serikat, Walt W. Rostow, dimana ia memberikan garis besar lima tahap: Pertama; masyarakat tradisional; Kedua, prakondisi untuk tinggal landas; Ketiga, tinggal landas; bergerak menuju kematangan; Kelima, zaman konsumsi massal tingkat tinggi. Dan Keenam; pencarian kualitas.

B. Modernisasi dan Perubahan Masyarakat
Samuel P. huntington menyiratkan industrialisasi, pertumbuhan ekonomi, meningkatnya mobilitas sosial dan partisipasi politik. Huntington berfokus pada isu peluruhan politik. Peluruhan politik adalah cerminan ketidakstabilan, korupsi, tindakan otoriter, dan kekerasan serta sebagai hasil kegagalan pembangunan yang didefinisikan sebagai peningkatan kapasitas untuk melestarikan kelangsungan transformasi yang diperlukan akibat tantangan modernisasi dan tuntutan perluasan partisipasi. Meskipun pendekatan pembangunannya diklaim bersifat dialektikal, berfluktuasi antara tuntutan dan kapasitas, Huntington akhirnya condong terhadap stabilitas institusional ketimbang tuntutan partisipasi dan mobilisasi yang berpotensi merusak.

C. Politik Modernisasi
David apter menyajikan sebuah tipologi pemerintah dan beberapa teori perubahan. Apter membedakan pembangunan dan modernisasi. Pembangunan merupakan hasil-hasil pertumbuhan dan integrasi peran-peran fungsional dalam sebuah kemunitas. Modernisasi adalah suatu kasus pembangunan.
Apter mengidentifikasi dua model sistem-sistem “Liberatarian-sekuler” atau pluralistic system-sistem “kolektivitas-sakral” atau termobilisasi. Model-model ini dirumuskan sebagai diktomi tipe-tipe ideal di sepanjang rangkaian kewenangan model libertarian-sekuler diwakili oleh sistem rekonsiliasi modern, dicirikan dengan beragamnya kekuasaan dan kepemimpinan, tawar-menawar dan kompromi sebagaimana dicontohkan suatu demokrasi liberal. Model kolektifitas sakral diwakili oleh sistem mobilisasi modern dicirikan oleh kepemimpinan kharismatik dan pribadi, kealiman politik yang berlebihan dan organisasi sebuah partai massa.

KETERBELAKANGAN
Teori-teori pembangunan pada umumnya berhubungan dengan pengalaman negara-negara maju. Beberapa teori keterbelakangan telah memiliki pengaruh. Tiga kecenderungan teoritis yang tumpang tindih sekarang akan diamati: pembangunan kapitalis dipusat dan keterbelakangan dibatas luar, ketidakmerataan pembangunan dan ketidakseimbangan pembangunan.

Frank berpendapat bahwa teori pembangunan yang memadai tidak dapat dirumuskan tanpa perhatian terhadap sejarah ekonomi dan sosial masa lalu sebagaimanan diderita mayoritas penduduk dunia. Frank mengajukan sejumlah dalil. Pertama, keterbelakangan bukanlah bersifat asli atau tradisional. Negara-negara yang sekarang ini maju mungkin pernah tak terbngaun namun tidak terbelakang.
Kedua, pandangan dualisme masyarakat yang satu modern, kapitalis dan maju sedangkan yang lain terisolasi, feodal atau prakapitalis dan terbelakang adalah keliru karena keterbelakang wilayah-wilayah miskin adalah produk-produk historis perkembangan wilayah progresif. Ketiga, hubungan metropole satelit dikemukakan pada tingkat internasional maupun dikehidupan ekonomi, politik dan sosial dikoloni dan negara neo kolonial.

A. Ketidakmerataan Pembangunan
Teori ketidakmerataan pembangungan mengakui beragamnya pola transisi kapitalisme batas luar dan kapitalisme pusat sebagai konsekuensi dari dampak mode produksi kapitalis dan mekanisme perdagangan pada formasi-formasi prakapitalis yang menghasilkan, misalnya penghancuran seni kerajinan tanpa digantikan oleh produksi industri lokal.
Sistem kapitalisme dunia heterogen, terdiri dari formasi pusat yang dominan dan formasi batas luar yang didominasi. Dalam kerangka kerja ini konflik kelas tidak dapat dipandang dalam cakupan sempit berupa entitas nasional melainkan dalam skala dunia

B. Ketidakseimbangan Pembangunan
Barry Bluestone menggambarkan dinaminka ekonomi Amerika Serikat dalam pengertian hukum ketidakseimbangan pembangunan. Sederhananya, mereka yang mengontrol sumberdaya modal berinvestasi dalam produk, permesinan, wilayah dan pekerja dimana pendapatan tertinggi dapat diantisipasi. Hasilnya adalah kesinambungan pertumbuhan dan kemakmuran disektor tertentu yang berkebalikan dengan stagnasi dan pemiskinan disektor dimana investasi menurun atau tidak terjadi sama sekali.
Ketidakseimbangan akan tetap ada selama keputusan investasi swasta mendominasi perencanaan ekonomi dan upaya-upaya negara kapitalis untuk memperluas perannya dalam ekonomi dapat membawa pada ketidakstabilan politik.

C. Ketergantungan
Perspektif ketergantungan kontemporer mengungkapkan bentuk dominasi dan ketergantungan yang berlawanan diantara negara-negara dunia kapitalis. Negara dependen mungkin berkembang sebagai cerminan sekspansi negara-negara dominan atau terbelakang sebagai konsekuensi hubungan ketergantungan mereka. Ilmuwan sosial Brazil Dos Santos membenarkan bahwa dengan ketergantungan kita mengartikan sebuah situasi dimana ekonomi negara tertentu terkoondisikan oleh perkembangan dan ekspansi ekonomi lain yang menjadi tempat bergantung negara-negara tadi
• Klasifikasi-Klasifikasi Teori Ketergantungan
Cardoso menguji kecenderungan dalam literatur ketergantungan. Pembangunan nasional otonom sebagai tanggapan terhadap luasnya keyakinan bahwa pembangunan akan terjadi melalui ekspor komoditas atau investasi asing. Tiga alternatif dihadapi oleh negara terbelakang adalah: ketergantungan, otonomi dan revolusi.
Becha mengajukan lima konsepsi ketergantungan. Pertama, untuk membedakan pembangunan dari keterbelakangan lewat analisis pusat dan batas luar sebagai bagian yang saling bergantung dari suatu sistem kapitalis mendunia. Kedua, berasal dari dependensitas inilah mampu menemukan pijakan yang mampu memadukan kekuatan internal dan eksternal dalam suatu interprestasi pengalaman sebuah negara dependen. Ketiga, menganalisis struktur metropolis satelit dan kontradiksi internal sistem kapitalis. Keempat, ketergantungan baru juga dikenal dengan industri teknologi
• Pendekatan Terhadap Teori Ketergantungan
Seluruh pendekatan teori ketergantungan mengasumsikan sebuah posisi anti imperialis, namun mereka dapat dibedakan dalam kategori non marxis dan marxis.

1. Desarrolista, strukturalis, otonomi pembangunan nasional
Berabad-abad lamanya negar-negara dominan telah mencampuri urusan internal negara lain. Pembentukan institusi keuangan internasional membantu meyakinkan hegemoni negara dominan atas negara dependen dan pembentukan program bantuan seperti Allieance for Progress bertindak sebagai penyamar strategi lama dalam melayani kapitalisme Amerika Serikat.

Sejak masa kolonial Amerika Latin bergantung pada eksport bahan mentah dan komoditas pertanian dalam mengejar pembangunan, namun strategi desarrllo atau pembangunan kearah luar ini digerogoti oleh menurunnya pendapatan ekspor selama depresi tahun 1930-an. Dibawah Ecla strategi berubah menjadi desarrollo kearah dalam. Strategi baru ini didalihkan pada pencapaian otonomi nasional melalui kontrol negara dan perencanaan ekonomi politik dibawah kaum terpelajar borjuis kecil dan borjuis industri.
2. Kolonialisme Internal
Sunkel menyinggung polarisasi didalam negara-negara mengingatkan pada teori kolonialisme internal yang diajukan sosiolog Meksiko, Pablo Gonzales cassanova. Kondisi kelonialisme tradisional yang sama menurutnya diketemukan secara internal sekarang dimana kondisi ini termasuk monopoli dan ketergantungan komunitas terisolasi, menciptakan deformasi ekonomi lokal dan dekapitalisasi, hubungan produksi dan kontrol sosial serta standar hidup dan budaya .

3. Kutub-Kutub Pembangunan
Sebuah turunan dari kolonialisme internal adalah kutub-kutub pembangunan yang pertama kalinya diajukan oleh Perancis Francois Perroux (1968). Teori ini berasumsi bahwa ekonomi terbelakang dicirikan oleh kurangnya infrastruktur transportasi dan komunikasi ganda dengan wilayah maju hadir diantara wilayah subsistem dan oleh ketergantungan terhadap keputusan-keputusan eksternal yang berhubungan dengan produksi barang-barang primer.

4. Pembangungan Kapitalis
Fernando Henrique Cardoso menyatakan gagasan bahwa kapitalisme mendorong keterbelakangan. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa pembangunan kapitalis dapat terjadi dalam situasi dependen. Ia percaya bahwa pembangunan kapitalis dependen telah menjadi bentuk baru dari ekspansi monopolistik di dunia ketiga. Oleh sebab itu pembangunan berlangsung dalam ketergantungan baru.

5. Kapitalisme Monopoli
Baran dan sweezy beralih pada pembangkitan dan penyerapan surplus di bawah kapitalisme monopoli. Surplus adalah perbedaan antara apa yang dihasilkan suatu masyarakat dengan biaya memproduksinya. Perhatian terhadap surplus mereka percayai memungkinkan sebuah analisis yang menghubungkan basis masyarakat dengan suprastruktur ideologi.

6. Subimperialisme
Pendekatan ketergantungan ini hendaknya tidak melewatkan gagasan subimperialisme Ray Mauro marini yang mempengaruhi pembangunan kapasitas Brazil. Ia mencirikan kapitalisme Brazil sebagai siprekslitatif, dengan pesatnya akumulasi modal yang menguntungkan para pemilik proses produksi dan bertambahnya massa berkemiskinan absolut.


7. Pembangunan Keterbelakangan Kapitalis
Tulisan awal Andre Gader Frank (1966) memberikan suatu landasan lain bagi teori ketergantungan. Frank menekankan monopoli komersial ketimbang feodalisme dan bentuk prakapitalis sebagai cara ekonomi metropolis nasional dan regional mengeksploitasi dan menarik surplus satelit-satelit ekonominya. Dengan demikian kapitalisme skala dunia mendorong pembangunan metropole dengan tanggungan satelit terbelakang dan dependen.

8. Ketergantungan Baru
Dos Santos memberikan garis besar tipe ketergantungan. Ketergantungan kolonial mencirikan hubungan antara negara Eropa dengan koloninya dimana monopoli perdaganngan dilengkapi oleh monopoli tanah, Pertambangan dan tenaga kerja dinegara koloni. Ketergantungan industri keuangan mewujudkan dirinya dipenghujung abad kesembilanbelas dengan disatu sisi didominsai oleh pusat hegemoni dan disisi lain investasi modal koloni batas luar untuk memperoleh bahan mentah dan produksi pertanian yang pada giirannya akan dikonsumsi oleh pusat.
Teori ini memahami pembangunan industri bergantung pada ekspor yang mendatangkan mata uang untuk membeli barang-barang modal impor. Ekspor biasanya terikat dengan sektor ekonomi tradisional yang dikontrol kaum borjuis pemilik tanah dan pada gilirannya terkait dengan modal asing.
Teori ketergantungan baru mencoba menunjukkan bahwa huungan negara dependen dengan negara dominan tidak dapat diubah dengan adanya perubahan dalam sruktur internal dan hubungan eksternalnya. Selanjutnya struktur ketergantungan bertambah membawa negara dependen pada keterbelakangan dan memperburuk permasalahan masyarakat ketika negara tersebut mengikuti suatu struktur dan internasional yang dipengaruhi secara kuat oleh peran perusahaan multinasional maupun pasar komoditas dan modal internasional.


IMPERIALISME
Beragam interprestasi membayangi teori imperialisme yang definitive. Jonah Raskin (1971) memperbandingkan inti perspektif imperialisme liberal dan radikal sebagaimana tercermin dalam tulisan kontemporer. Dunia imperialisme hadir dengan mendobrak dinding tulisan abad kesembilan belas. Teori imperialisme umumnya berhubungan dengan kegiatan negara dominan di dunia.
George Lichteim mengambarkan kekaisaran atau imperialisme sebagai hubungan suatu kekuatan penguasa atau pengontrol dengan mereka yang dibawah dominasinya, ia percaya bahwa dominasi dan penaklukkan merupakan elemen imperialisme. Hilangnya kedaulatan atau otonomi menyiratkan bahwa negara berada dibawah dominasi imperial yang dapat terjadi melalui intervensi langsung dan terbuka dari suatu negara kedalam urusan negara lain melalui keuntungan diplomatik atau perjanjian dengan melalui cara ekonomi. Lichtheim menekankan bahwa kebanyakan teori imperialisme adalah rapuh.
Ada dua pendekatan yang mengasumsikan minculnya imperialisme. Pertam, yang berkonsepsi Marxis yang berpendapat bahwa imperialisme merupakan cerminan meluasnya kapitalisme yang diperlukan akibat kontradiksi dalam mode produksi kapitalis. Yang kedua merupakan dorongan liberal berpendapat jika ketidakmerataan adalah akibat dari sistem kapitalis dapat seketika diatur
Berikut ilmuwan-ilmuwan yang bersandar pada dua pendekatan besar tersebut:

A. Hobson
Hobson percaya bahwa seandainya terjadi peningkatan konsumsi domestik maka tidak akan terdapat akses menyangkut barang-barang ataupun modal. Konsumsi domestik yang rendah sebagai penyebab imperialism


B. Kautsky
Kautsky percaya kelas akan berkonflik dengan kapitalisme dan kapitalisme sendiri akan sirna lewat proses damai. Kautsky membayangkan imperialisme dimana mungkin terdapat eksploitasi kolektif dunia oleh keuangan internasional. Kepentingan kelas kapitalis secara utuh berkonflik dengan kepentingan modal suatu minoritas dalam kapitalisme yang mengandalkan cara-cara militer untuk mendukung upaya-upaya ekspansionis mereka. Dengan demikian modal keuangan bersatu secara internasional dapat membawa pada suatu resolusi damai atas konflik nyata potensial yang ditimbulkan oleh persaingan modal keuangan internasional. Dengan demikinan kapitalisme seharusnya dapat hadir tanpa imperialisme.
B. Schumpeter
Shumpeter menguji tipe-tipe imperialisme merentang dari kekaisaran kuno sehingga pengalaman modern yang diakarkan pada ekonomi prakapitalis. Secara historis imperialisme adalah irasional, satu pencerminan kebutuhan orang-orang yang ingin bertahan dan satu anggapan terhadap kepentingan sosial dan ekonomi dari kelas-kelas penguasa dan individu-individu. Imperialisme tumbuh dari kondisi masa lalu bukannya masa sekarang. Ia berasal dari zaman prakapitalis sehingga akan menghilang dalam era kapitalisme rasional dan progresif.
C. Luxemburg dan Bukharin
Rosa Luxemburg memperluas sebuah teori imperialisme. Inti kepedulian adalah pengujian penetrasi modal kedalam ekonomi primitif. Ia membedakan tiga fase akumulasi modal. Pertama, melibatkan perjuangan modal dengan ekonomi alami di wilayah dimana terdapat komunitas petani dan kepemilikan tanah secara bersama atau sistem feodal, atau juga suatu organisasi ekonomi yang berorientasi pada permintaan internal dimana hanya terdapat sedikit surplus atau permintaan barang-barang luar negeri.

Luxemburg memandang imperialisme sebagai konversi surplus menjadi modal yang diketemukan dimanapun dalam ekonomi dunia dan tidak membatasi akumulasinya pada masyarakat kapitalis terisolasi.

Sementara itu Nikolai Bukhrain memandang bahwa dunia terdiri dari sebuah hubungan sistem produksi dan hubungan sistem produksi dan hubungan pertukaran dalam skala dunia.

D. Lenin
Teori Lenin tantang imperialisme sebagai tahap tertinggi kapitalisme didasarkan pada sebuah analisis seksama atas beberapa ciri ekonomi utama yaitu konsentrasi produksi yang pesat dalam monopoli industri besar. Modal monopoli industri dan bank berpadu menjadi modal keuangan .
Dalam menjelaskan modal keuangan Lenin mendefinisikan kapitalisme sebagai produksi komunitas pada tahap perkembangan tertingginya dimana kekuatan tenaga kerja sendiri menjadi sebuah komoditas. Dibawah kapitalisme baru dicirikan oleh monopoli. Monopoli merupakan salah satu sifat lain imperialisme.
Bagi Lenin imperialisme adalah kapitalisme monopoli. Ini menentukan letak dirinya dalam sejarah karena monopoli tumbuh dari lahan persaingan bebas adalah transisi dari sistem kapitalis menjadi tatanan sosio ekonomi yhang lebih tinggi. Ia mengidentifikasikan empat perwujudan kapitalisme monopoli ini: Pertama, formasi asosiasi, kartel, sindikasi dan badan perwalian kapitalis ketika monopoli merebak dari konsentrasi produksi. Kedua, kebangkitan bank sebagai pemegang monopoli keuangan menghasilkan suatu oligarki keuangan yang menebarkan jarring hubungan ketergantungan tertutup keseluruh institusi ekonomi dan politik masyarkat borjuis tanpa terkecuali. Keempat pembagian dunia kolonial menjadi belahan pengaruh sebuah pencerminan perjuangan modal keuangan demi bahan mentah dan ekspor modal.

  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------


PENGARUH ETNIS DALAM PILKADA SULAWESI SELATAN

-------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

  Dalam proses pilkada, banyak faktor yang terlibat, banyak faktor yang mempengaruhi terutama dalam perilaku pemilih. Berbicara tentang etnis, tentu masih kuat diingatan kita, bagaimana faktor etnis menjadi faktor yang sangat sensitif dan kuat dalam struktur sosial masyarakat Indonesia. Bagaimana posisi etnis dalam pilkada? Untuk skala indonesia secara umum, terdapat berbagai macam temuan dan pendapat, ada yang menyatakan bahwa faktor etnis sangat kuat mempengaruhi perilaku pemilih dalam proses pilkada, pemilih cenderung memilih calon dengan mendasarkan pada kesamaan etnis, dalam artian kesamaan ras dan etnis pemilih dengan partai atau pejabat publik cenderung mempengaruhi perilaku pemilih seseorang. Tetapi ada juga yang menyatakan, faktor etnis tidak terlalu mempengaruhi perilaku pemilih dalam proses pilkada.
 Terdapat dua faktor besar yang mempengaruhi perilaku pemilih dalam pilkada, faktor psikologis dan faktor sosiologis. Perilaku pemilih memang ada yang dipengaruhi faktor sosiologi seperti kesamaan etnis dan budaya. Pendukung teori ini, di antaranya Scott C. Flanagan (1991), David Denver (1989), Gerald Pomper (1978), dan Seymour Martin Lipset (1981). Mereka melihat kecenderungan faktor etnis (dan juga aliran) ini pada beberapa kasus pemilu di Inggris dan Jepang. Angus Campbell (1976) dari Universitas Michigan berseberangan dengan pandangan sosiologis. Berdasar pada hasil risetnya di Amerika, Angus melihat faktor psikologis seperti pengetahuan, sikap, dan kepercayaan pemilih kepada kandidat, yang dominan memengaruhi pemilih.
Richard Niemi dan Herbert F. Weisbergg (1984) dalam bukunya, Controversies of Voting Behaviour, menjelaskan berdasar pada risetnya di beberapa negara bagian Amerika, terdapat perilaku pemilih yang rasional (rational-choice) yang cenderung pragmatis dan ekonomis. Bila kandidat dipandang menguntungkan, mulai pencoblosan hingga berkuasa kelak, pemilih akan memilihnya. Sebaliknya, bila hanya merugikan waktu kerja, tenaga, dan menghabiskan biaya, pemilih tidak akan mencoblos (golput). Ian Mc Allister (1992) dalam bukunya, Political Behaviour: Citizen, Parties, and Elites in Australia, mencatat ada perilaku pemilih Australia yang konsen pada faktor struktural (memilih berdasarkan kedekatan kelas sosial-ekonomi, desa-kota, dll) dan faktor ekologi (memilih berdasar pada kedekatan karakterisik wilayah pedalaman, pesisir, pertanian, perkebunan, dll.).
            Politisasi etnis, meskipun dalam skala kecil, misalnya diranah lokal daerah dapat menciptakan biaya politik yang besar. Ini terlihat di banyak daerah yang dapat dijadikan referensi dan bahan renungan dari pelaksanaan Pilkada. Dengan munculnya wacana politik etnis dalam ranah politik daerah terutama dalam proses demokrasi ditingkat lokal, yakni pada Pilkada langsung dimana elit yang mencalonkan diri sebagai kandidat calkada maupun wacalkada yang lebih condong memilih pasangan mereka berdasarkan representasi jumlah etnis untuk menggalang solidaritas etnis di daerahnya.

Arena Pilkada memberi kesempatan kepada kita untuk melihat lebih dalam kaitan antara etnis dengan perilaku pemilih. Dalam Pilkada muncul calon yang berasal dari etnis berlainan. Dengan kondisi seperti itu akan dilihat apakah pemilih cenderung untuk melihat kandidat yang mempunyai etnis sama dengan dirinya. Apakah kandidat yang kebetulan berasal dari etnis mayoritas mendapat keuntungan dan berusaha “mengeploitasi” kelebihan itu dalam menarik sebanyak-banyaknya pemilih. Aspek etnis tampaknya tidak boleh dilupakan perannya dalam Pilkada. Latar belakang etnis kandidat sedikit banyak mempengaruhi pilihan pemilih. Pemilih cenderung memilih kandidat yang berasal dari etnis yang sama. Aspek etnis tampaknya tidak boleh dilupakan perannya dalam Pilkada. Latar belakang etnis kandidat sedikit banyak mempengaruhi pilihan pemilih

Teori-teori dalam lapangan sosiologis menyebut-kan faktor etnis adalah salah satu variabel penting yangbisa menjelaskan pilihan seseorang pada kandidat ataupartai tertentu. Kesamaan ras dan etnik antara pemilihdan partai atau calon pejabat publik cenderung mempe-ngaruhi perilaku memilih seseorang. Arena Pilkada memberi kesempatan kepadakita untuk melihat lebih dalam kaitan antara etnis denganperilaku pemilih. Berbeda dengan pemilihan legislatif ataupresiden (nasional), kandidat yang maju dalam Pilkadakemungkinan lebih banyak menggunakan isu dan senti-men etnis. Di sejumah Pilkada misalnya, kita kerap meli-hat munculnya isu seperti “putra daerah”, “calon penda-tang”, “calon penduduk asli”, dan sebagainya. Ada sejum-lah alasan mengapa isu etnis lebih mungkin muncul dalam Pilkada dibandingkan dengan pemilihan nasional seperti Pemilu Legislatif dan presiden. Pertama, perta-rungan kandidat dalam Pilkada umumnya bersifat lokal.Banyak kandidat yang maju mewakili kelompok tertentu.Ini menyebabkan kandidat yang kebetulan berasal ataudidukung oleh kelompok mayoritas menggunakan isu dan sentiment etnis untuk mendapatkan dukungan dari pemilih.

Di Provinsi Sulawesi selatan terdapat etnis besar yakni Makassar dan Bugis. Kedua, di Wilayah tersebut muncul calon yang berasal dari etnis berlainan. Dengan kondisi seperti itu akan dilihat apakah pemilih cenderung untuk memilih kandidat yang mempunyai etnis yang sama dengan dirinya.

-------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------


IDEOLOGI


  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

China mulai tahun 1921 hingga sekarang memiliki ideologi komunis. Keadaan ini bermula saat Tiongkok mengalami krisis memilukan pada masa akhir dinasti Qing tahun 1911 sampai tahun 1949 pada masa awal periode Republik. Banyak orang – orang bijak ingin menyelamatkan negerinya, tetapi berujung pada keputusasaan. Keputusasaan tersebut mendorong mereka untuk mencari jalan keluar dari luar Tiongkok. Akhirnya mereka memilih untuk bercermin pada Rusia, setelah melihat kegagalan Inggris dan Perancis. Lalu dilakukanlah pertemuan dengan penghubung Partai Komunis dari Uni Soviet. Mereka memilih teori Marxisme – Leninisme yang berbunyi “ menggunakan kekerasan untuk menduduki kekuasaan politik”. Mereka beranggapan teori tersebut cukup sesuai dengan keadaan yang sedang mereka alami sehingga bisa menyelamatkan negara dan rakyat. Dari pertemuan itu, diperkenalkanlah komunisme, suatu konsep yang asing bagi Tiongkok dan hasilnya justru memberikan bencana tanpa akhir bagi negeri tirai bambu tersebut. Dan setelah melalui beberapa proses dengan Rusia, terbentuklah Partai Komunis China pada tahun 1921.
Partai Komunis China berjaya dengan menggunakan cara kotor, yaitu memupuk kejahatan di dalam jiwa anggotanya. Mereka memiliki 9 unsur dasar, yaitu menjalankan bentuk kejahatan dari Marxisme – leninisme; menipu untuk mencampur adukkan baik dan jahat; menyulut kebencian dan menghasut pertikaian massa; berandalan dan sampah masyarakat menduduki jabatan di PKC; melakukan mata – mata dan penghianatan; merampas dengan muslihat dan kekerasan menjadi “peraturan baru”; pemusnahan sistem nasional, aturan dan kalangan tradisional; mendirikan ideologi genosida secara lengkap; menggunakan prinsip – prinsip partai untuk mengontrol seluruh partai dan segenap masyarakat. Dalam masa tersebut China sangat tertutup dan banyak hak rakyat yang dicabut, Mereka menerapkan prinsip kesetaraan dan mengandalkan kekuatan dari kaum proletar. Mereka tidak hanya menerapkan komunisme sebagai ideologi, tetapi juga dasar dalam bernegara dan melakukan hubungan dengan negara lain.
Untuk saat ini, ada orang yang beranggapan bahwa komunisme telah memudar dari China. China dianggap tak ada bedanya dengan negara negara barat seperti Inggris dan Amerika. Saat ini di China siapapun bebas berdagang dan melakukan hubungan ke luar negeri. China tak lagi tertutup. Saat ini kominisme hanya diletakkan sebagai ideologi, bukan dasar dalam menjalankan pemerintahan.
Lalu bagaimana dengan Korea Utara? Sesungguhnya dasar dari ideologi Korea Utara adalah komunisme, akan tetapi sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan de-stalinisasi Uni Soviet, pada tanggal 28 Desember 1955 Kim II Sung memberikan pidato dengan judul “Menghapus dogmatisme dan formalisme juga membangun Juche sebagai ideologi kerja”. Sejak saat itu, Juche ditetapkan sebagai ideologi resmi Korea Utara. Ideologi ini adalah bagian dari komolsungisma yang merupakan sistem politik Korea utara.
Ideologi ini mengajarkan bahwa “manusia menguasai segalanya dan memutuskan segalanya”. Ideologi Juche juga memberikan doktrin pada rakyat Korea Utara bahwa “orang korea adalah penguasa revolusi Korea”. Ideologi ini berisi ajakan untuk terus berusaha dalam swasembada dan ingin mandiri sebagai negara yang berdaulat, kuat dan sejahtera.
Juche memiliki tiga dasar fundamental yang dikemukakan oleh Kim II-Sung lewat pidatonya “Konstruksi sosialis dan revolusi korea selata di Republik Demokratis Korea Utara”. Ketiga dasar fundamental itu yaitu merdeka dalam berpolitik (chaju), swasembada ekonomi (charip), dan mandiri dalam pertahanan (chawi). Ideologi ini juga memberikan doktrin pada rakyatnya bahwa Korea Utara adalah negara terhebat, tidak ada yang bisa melebihi Korea Utara.

  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

MAZHAB MAZHAB DALAM EKONOMI

-------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

Ilmu ekonomi mengenal berbagai mazhab, terdapat delapan mazhab ilmu ekonomi, yaitu mazhab:(1) merkantilis; (2) fisiokrat; (3) klasik; (4) sosialis; (5) hitoris; (6) marjinalis; (7) institusionalis; (8) kesejahteraan.
Mazhab merkantilisme
muncul antara Abad Pertengahan dengan kejayaan Laissez-Faire (1500-1776 atau 1800). Menurut Eatwell (1987: 445), merkantilisme merupakan babak panjang pertalian sederhana dalam sejarah pemikiran ekonomi Eropa da kebijaksanaan ekonomi nasional, yang membentang sekitar tahun 1500 sampai tahun 1800. Adanya ‘penemuan-penemuan’ daerah baru yang luas memiliki implikasi bahwa institusi ‘gilda’ tidak memadai lagi, bahkan dianggap sebagai penghambat berkembangnya perdagangan antar Negara waktu itu. Akibatnya, mereka melakukan perdagangan dengan berbagai Negara hasil temuan mereka, dan semua ini menimbulkan persaingan dagang yang makin menajam antar bangsa penjelajah. Para ‘kapitalis pedagang’ (marchant capitalists) memegang peranan penting dalam dunia bisnis. Emas, rempah-rempah, perak yang memberikan kemudahan bagi pesatnya perdagangan dan mendorong tumbuhnya teori menenai logam mulia (Sastradipoera, 2001: 14). Pada masa tersebut peran tokoh Thomas Mun (1571-1641) saudagar kaya raya dari Inggris dan Jean Baptist Colbert (1619-1683) adalah seorang menteri utama ekonomi dan keuangan dari Prancis pada zaman raja Louis XIV, meupakan dua tokoh penting yang mewakili kaum ‘skolar’ dan saudagar pada waktu itu, sehingga ekonomi merkalitisme ini sering disebut ‘Colbertisme’. Inti ajaran/mazhab ini bahwa; Pertama, emas dan perak khususnya merupakan bentuk kekayaan yang paling banyak disukai, oleh karena itu merka melarang ekspor logam mulia. Kedua, negara harus mendorong ekspor dan memupuk kekayaan dengan merugikan negara lainnya (tetangga). Ketiga, dalam kebijaksanaan ekspor-impor, berkeyakinan bahwa perkembangan harus dapat diraih dan dikelola dengan jalan meraih surplus sebesar-besarnya dari penerimaan ekspor barang yang melebihi belanja untuk impor barang. Keempat, kolonisasi dan monopolisasi perdagangan harus benar-benar dapat dilaksanakan secara ketat untuk memelihara keabadian kaum koloni tunduk dan tergantung kepada Negara induk. Kelima, penentangan atas bea, pajak, dan restriksi intern terhadap mobilitas barang, Keenam, harus dibangun pemerintah pusat yang kuat, guna menjamin kebijaksanaan merkantilisme tersebut, dan. Ketujuh, pentingnya pertumbuhan penduduk yang tinggi namun disertai dengan sumberdaya manusia yang tinggi pula untuk memenuhi kepentingan pemasokan kepentingan militer serta pengelolaan merkentilisme yang kuat pula (Sastradipoera, 2001: 12-18).
Mazhab Fisiokrat
muncul pertama kali di Prancis menjelang berakhirnya zaman merkantilis yang diawali tahun 1756. Isitah ”fisiokrat” berasal dari bahasa Yunani, dari kata ”physia” berarti alam, dan ”kratos” berarti kekuasaan. Secara harfiah beararti ”supremasi alam”. Tokohnya adalah Frncois Quesnay (1654-1774), seorang dokter ilmu bedah Prancis yang pernah menjadi dokter pribadi Raja Louis XV, juga dokter kepercayaan selir raja, Madame de Pompadour. Di samping profesinya sebagai dokter, ia seorang ahli ekonomi yang menulis artikelnya ”ilmu ekonomi” dalam Grande Encyclopedie.
Quesnay mengecam kebijaksanaan ekonomi Colbert, dengan mengatakan bawa seorang menteri tidaklah pantas mengeluarkan kebijaksanaan hanya didorong oleh kecemburuan terhadap keberhasilan perdagangan Belanda dan keindahan industri barang-barang mewah. Hal ini hanya akan menjebloskan negara Prancis dalam kebodohan yang amat dalam, di mana rakyat hanya bisa bicara mengenai ”dagang” dan ”uang”. Semuanya ini tidak lain hanya karena ulah Colbert yang telah menghancurkan sendi-sendi ekonomi rakyat Prancis. Inti ajaran fisiokrat ini pada hakikatnya berlandaskan hukum alam. Sebagaimana Isaac Newton (1643-1727) yang telah menemukan hukum dunia fisik, maka Quesnay percaya bahwa seluruh kegiatan manusia harus dibawa ke ke dalam harmoni dengan hukum alam. Intinya, pertama, Semboyan laissez-faire, laissez-passer yang berasal dari Vincent de Gournay (1712-1759) yang arti konotatifnya ”biarkan orang berbuat seperti yang mereka sukai tanpa campurtangan pemerintah” mengisaratkan betapa pemerintah harus membatasi diri dalam intervensinya dalam perekonomian jelas bertentangan dengan kaum merkantilis, maupun feodalis. Kedua, tekanan pada sektor pertanian yang produktif yang memungkinkan terjadinya surplus atau produk neto di atas nilai sumber daya yang digunakan. Ketiga, pemilik tanah harus dibebani pajak yaitu dalam bentuk satu macam pajak Sekalipun perekonomian Prancis tidak menjadi lebih baik, namun fisiokrat telah memberikan sumbangan yang bermakna bagi perkembangan ilmu ekonomi, terutama dalam semboyan laissez-faire, fisiokrat mengubah perhatian para ekonom kepada masalah peranan pemerintah dalam perekonomian yang didasarkan pada persaingan bebas dan kebebasan memilih serta membuat keputusan (Sastradipoera, 2001: 21-27).
Mazhab Klasik
Mazhab ini secara umum mengacu kepada sekumpulan gagasan ekonomi yang bersumber dari formulasi David Hume, yang karya terpentingnya diterbitkan pada tahun 1752 dan munculnya seorang ekonom besar yang pernah menjadi Guru Besar Falsafah Moral di Universitas Glasgow, Adam Smith dengan karyanya An Inquiry into the Nature and causes of the Wealth of Nations tahun 1776 sampai Ricardo, McCulloch John.Stuart. Mill, dan Lord Overstone (1837). Gagasan-gagasan kedua tokoh tersebut mendominasi ilmu ekonomi, khususnya yang mekar di Inggeris, selama seperempat terakhir abad 18 dan tigaperempat pertama abad 19 (O’Brien, 2000: 120). Inti mazhab klasik tersebut pada hakikatnya terletak pada gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi berlangsung melalui interaksi antara akumulasi modal dan pembagian kerja.
Akumulasi modal dapat dilakukan dengan menunda atau mengurangi penjualan out-put dan hal ini baru akan bermanfaat jika dibarengi pengembangan spesialisasi dan pembagian kerja. Pembagian kerja itu sendiri nantinya akan dapat meningkatkan total out-put sehingga memudahkan dilakukannya akumulasi modal lebih lanjut. Jadi jelaslah bahwa antara kedua hal tersebut terdapat hubungan timbal-balik yang sangat penting. Pertumbuhan ekonomi hanya dapat ditingkatkan jika modal bisa ditambah, dan atau jika alokasi sumber daya (pembagian kerja) dapat disempurnakan. Namun pembagian kerja itu sendiri dibatasi oleh ukuran atau skala pasar, yang pada gilirannya ditentukan oleh jumlah penduduk dan pendapatan perkapita yang ada. Tatkala modal terakumulasi, tenaga kerja akan kian dibutuhkan sehingga tingkat upah-pun meningkat untuk memenuhi kebutuhan ”subsisten” baik secara psikologis maupun fisiologis (O’Brien, 2000: 121). Ilmu ekonomi klasik tersebut merupakan prestasi intelektual yang mengesankan. Landasan-landasan teoretis yang dikembangkannya menjadi pijakan bagi teori-teori perdagangan dan moneter sampai sekarang ini.
Mazhab Sosialisme
Dalam mazhab sosialisme ini sistem pemilikan dan pelaksanaan kolektif atas faktor-faktor produksi (khususnya barang-barang modal), biasanya oleh pemerintah. Ide-ide sosialis dan gerakan politik mulai berkembang pada awal abad ke-19 di Inggeris dan Prancis. Periode antara tahun 1820-an sampai 1850-an ditandai dengan pletoria beragam sistem sosialis yang diusulkan oleh Saint-Simon, Fourier, Owen, Blanc, Proudhon, Marx dan Engels, serta banyak lagi pemikir sosialis lainnya. Kebanyakan sistem/mazhab ini bersifat utopia dan sebagian besar pendukungnya adalah para ’filantropis’ (cinta kasih sesama umat manusia) kelas menengah yang memiliki komitmen untuk memperbaiki kehidupan para pekerja/burh serta kaum miskin lainnya. Selain itu kebanyakan penganut sosialis mendambakan masyarakat yang lebih terorganisir yang akan menggantikan anarki akibat dari pasar dan kemiskinan masal masyarakat perkotaan (Hirst, 2000: 1012).
 Inti ajaran mazhab sosialis sebenarnya sulit dijelaskan karena luasnya cakupan sosialisme (sosialisme utopis, sosialisme ilmiah, sosialisme negara, sosialisme anarkis, sosialisme revisionis, sosialisme serikat sekerja, dan sebagainya). Mereka yang membela sosialisme acapkali berbeda mengenai jenis sosialisme yang mereka cari. Hanya dalam beberapa hal mereka mempunyai kesamaan, selebihnya berbeda bahkan bertentangan. Ada yang menghendaki hapusnya pemerintah, sementara yang lainnya ingin mempertahankan agar dapat melindungi kepentingan buruh; ada pula yang menganggap semua lambang kapitalisme harus dilenyapkan, termasuk mekanisme pasar, harga, dan invisible hand, sedangkan yang lainnya menganggap mekanisme pasar dan harga masih diperlukan dalam saat-saat awal soialisme disebabkan sulitnya mengukur efisiensi ketika dewan perencanaan pusat menyusun prioritas (Sastradipoera, 2001: 40).
Mazhab historis
 lahir di Jerman tahun 1840-an melalui karya ilmiah yang ditulis oleh Friederich List (1789-1846) dalam Nationales System der politischen Oekonomie (1840), dan Wilhelm Roscher (1817-1894) dalam Grundriss zu Vorlesungen ueber die Staatswissenchaft nach geschichtilicher Methode (1843), menyerang mazhab klasik Inggeris. Mereka beranggapan bahwa konsep-konsep ekonomi sesungguhnya merupakan produk perkembangan menurut sejarah kehidupan ekonomi yang khusus tumbuh di sautu negara. Oleh karena itu hukum-hukum ekonomi tidaklah mutlak, tetapi bersifat relatif atau nisbi berhubungan dengan perkembangan sosial menurut dimensi waktu dan tempat.
Mazhab marjinalis
Mazhab ini pelopornya adalah Karl Menger (1840-1921) dari Jerman dalam karyanaya Grundsaetze der Volkswirtschaftlehre (1871). Selanjutnya seorang ekonom Inggeris William Staley Jevons (1835-1882) dalam karyanya Theory of Political Economy (1871), dan seorang Prancis Leon Walras (1834-1910) dalam karyanya Elements d’economie politique pure (1874). Mereka memberikan analisis yang telak mengenai hubungan antara kebutuhan dan harga dengan mengacu kepada konsep ”guna marjinal”. Mereka menegaskan bahwa dalam hal seseorang individu, setiap tambahan suatu barang yang dilakukan secara berturut-turut akan memperkecil nilai obyektif setiap tambahan yang dimiliki oleh individu itu. Oleh karena itu gagasan yang tidak sistematik mengenai nilai pakai dan permintaan serta penawaran sebagai penentu nilai tukar barang (yang dikembangkan bersamaan dan bertentangan dengan teori Klasik), menemukan penanganansistematik pada awal tahun 1970-an oleh ketiga penulis di atas (Sastradipoera, 2001: 62).
Mazhab institusionalis
Datang dari Amerika Serikat tahun 1900-an yang pengaruhnya masih kuat sampai sekarang ini, contohnya adanya undang-undang anti-trust yang masih dipertahankan. Tokohnya adalah Thorstein Veblen (1857- 1929) dalam karyanya The Theory of the Leisure Class pada tahun 1899. Veblen dikenal sebagai seorang kritikus sosial yang bersemangat serta menyerang organisasi masyarakat industri kontemporer yang dianggapnya boros, dan mengalahkan sikap konsumtif yang menyolok mata. Selanjutnya ia mengamati sudut-sudut yang merugikan yang berasal dari gejala yang dihadapinya; ”milik guntay” (abstentee ownertship) yang merupakan ciri utama kapitalisme finansial. Berasal dari ”milik guntay” maka muncullah suatu lapisan masyarakat yang dianggap oleh Veblen sebagai ”kelas santai” (lesure class), adalah suatu kelas pada masyarakat lapisan atas yang berasal dari dunia industri dan keuangan yang perilkunya menampakkan fenomena kaum ”feodal tanggung” dengan mempertontonkan pola konsumsi yang berlebihan serta mencolok mata (Sastradipoera, 2001:72).
Mazhab neo kalsik
Merujuk pada versi terbaru dari ekonomi klasik yang dimunculkan pada abad 19 terutama oleh Alfred Marshal dan Leon Walras. Versiversi yang terkenal itu dikembangkan pada abad ke-20 oleh John Hicks dan Paul samuelson. Lepas dari pengertian neo klasik umumnya, perbedaan ekonomi ne klasik dan klasik hanya terletak pada penekanan dan pusat perhatiannya. Jika ekonomi klasik menjelaskan segala kondisi ekonomi dalam kerangka kekuatan-kekuatan misterius ”invisiblehand (tangan-tangan tak terlihat), maka dalam mazhab ekonomi neo klasik mencoba memberi penjelasan lengkap dengan memfokuskan pada mekanisme-mekanisme aktual yang menyebabkan terjadinya kondisi ekonomi tersebut (Boland, 2000: 700).
Mazhab Keynesian
Mazhab ini sesuai dengan namanya dipimpin oleh John Maynard Keynes, yang merupakan ekonomi agregat (makro) yang dituangkan dalam bukunya General Theory of Employment, Interest and Money (1936), dan dari karya-karya pengikut Keyneu yang lebih kontemporer seperti Sir Roy Harrold, Lord Kaldor, Lord Kahn, Joan Robinson dan Michael Kalecki, yang meluaskan analisis Keynes terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertanyaan mengenai distribusi fungsional pendapatan (functional distribution of income) antara upah dan laba yang oleh Keynes sendiri diabaikan (Thirwall, 2000: 531).
Dua pilar utama dari teori employment klasik adalah bahwa tabungan dan investasi menghasilkan ekuilibrium pada tingkat full employment melalui tingkat suku bunga, dan bahwa penawaran serta permintaan tenaga kerja menghasilkan ekuilibrium melalui berbagai variasi upah riil. General Theory Keynes ditulis sebagai reaksi terhadap paham klasik tersebut. Perdebatan mengenai masalah ini sampai sekarang masih berlangsung.
Mazhab Chicago
Merupakan aliran kontrarevolusi neoklasik yang menentang institusionalisme dalam metodologi ilmu ekonomi, makroekonomi ala Keyney maupun terhadap liberalisme abad 20 yang menonjolkan intervensionisme dan penonjolan kebijakan ekonomi oleh pemerintah (Bronfendbrenner, 2000: 103). Sesuai dengan namanya, aliran ini berkembang di Universitas Chicago sejak dekade 1930-an. Tokoh utamanya tahun 1950-an adalah Frank H. Knight untuk soal teori dan metodologinya, serta Henry C.Simons dalam rumusan kebijakan ekonomi.Kemudian pada generasi berikutnya tokoh yang menonjol adalah Milton Friedman, George Stigler dan Gary Becker.
 Jika dilihat dari sudut sejarahnya pemikiran ekonomi mazhab Chicago ini sebenarnya adalah suatu varian Neoklasisme dan mengacu kepada ”Klasisisme Baru (New Classicism), di mana; Pertama, pasar dianggap sebagai mekanisme utama dalam menyelesaikan berbagai masalah ekonomi, asalkan didukung kebebasan politik intelektual; para ekonom aliran Chicago melihat perekonomian sebagai suatu kondisi perlu, namun bukan kondisi cukup untuk menciptakan masyarakat bebas; Kedua; pengelolaan administratif dan intervensi kebijakan ekonomi yang bersifat ad hoc, hanya akan merusak situasi ekonomi; dalam soal kebijakan moneter dan fiskal, aliran ini menekankan pentingnya kesinambungan. Ketiga; monetarisme dianggap lebih baik ketimbang fiskalisme dalam regulasi makroekonomi. Keempat; kebijakan fiskal diyakini sebagai wahana yang tepat untuk mengentaskan kemiskinan, namun redistribusi pendapatan bagi kalangan di atas garis kemiskinan justru akan lebih banyak meninmbulkan kerugian.

-------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------