Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Tuesday, October 9, 2018

Tana Toa Sebagai Wilayah Adat


  -------------------------------------------
(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.
---------------------------------------------------
Tanah Toa Sebagai Wilayah Adat.
Secara administratif Desa Tanah Toa berada dalam wilayah kecamatan kacang, salah satu kecamatan dari sembilan kecamatan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Kecamatan kajang memiliki luas wilayah 126, 17 km" terpilah kedalam satu kelurahan, 4 desa dan 4 desa persiapan. Empat desa persiapan ( Bonto Biraeng, Lembang, Battunilamung, dan Mattoanging), karena pertimbangan luas wilayah dan upaya pemerintah daerah meningkatkan pelayanan kepada masyarakatnya secara meluas di kecamatan Kajang, merupakan pemekaran dari ke-4 desa lama yaitu lembanna, Tambangan, Tana Toa, dan Possi Tana.
Kelurahan Tana Jaya, satu-satunya kelurahan di kecamatan Kajang menjadi ibukota kecamatan.
Kecamatan kajang disebut Bulukumba Timur oleh masyarakat kajang dan Herlang ( kecamatan yang bertetangga dengan kecamatan Kajang) lantaran letaknya berada diujung timur kabupaten Bulukumba , dengan batas wilayah:
1. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Dari II Sinjai.
2. Di sebelah timur dibatasi oleh Teluk Bone.
3. Di sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Bulukumba.
4. Di sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Herlang ( Hero lange-lange)
Secara umum dapat disebutkan bahwa keadaan alam kecamatan kajang terdiri atas dataran berbukit dan lembah-lembah yang subur untuk pertanian dan perkebunan, disamping kawasan hutan dengan hasil kayu, rotan, dan buah-buahan.
Penduduk yang berdiam dipesiair paling timur disekitar perairan Teluk Bone, mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan, baik sebagai pekerjaan pokok maupun sambilan. Hasil dari laut tersebut dipasarkan diluar kecamatan dan sebagian dijual dikajang sendiri.

Wednesday, October 3, 2018

Potret Awal Komunitas Ammatoa


  -------------------------------------------

(18+) ane mau share video panas terbaru klik DISINI tunggu 5 detik terus klik skip add alamat menonton.

---------------------------------------------------

Diantara suku yang ada di Indonesia, di Provinsi Sulawesi Selatan, kabupaten Bulukumba, Kecamatan Kajang, terdapat satu kelompok masyarakat yang kokoh memegang tradisinya.mereka dalam tulisan ini disebut komunitas ammatoa. Kurang menerima hal-hal di luar apa yang mereka dengar atau ketahui dari generasi sebelumnya. Sikap dan pola pikir dalam menghadapi kehidupan ini berorientasi pada kepasrahan dan menerima nasib apa adanya. Sikap ini agaknya kurang cocok dengan jiwa pembangunan yang sedang digalakkan di negeri ini. Ketidakcocokan dengan jiwa pembangunan itu masih merupakan hipotesis, dugaan sementara yang perlu pembuktian.

Komunitas ammatoa mudah dikenal menampakkan ciri-ciri yang membedakannya dari kelompok sosial lainnya. Spesifikasinya bukan saja nampak pada atribut yang digunakan, seperti: baju celana yang hampir menyentuh lutut, sarung, daster ( ikat kepala bagi kaum lelaki) yang semuanya berwarna hitam, menggunakan kuda sebagai sarana transportasi.

Spesifikasi mereka merupakan akibat tak langsung dari keterisoliran dari"dunia luar". Disamping oleh sistem nilai yang mereka anut memuat sejumlah pantangan yang apabila tidak diindahkan akan menyebabkan hal-hal yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa konjo ( bahasa yang digunakan orang kajang) disebut husung ( ganjaran yang berakibat sanksi sosial sekaligus dipercaya akan berakibat buruk di "alam sana" bagi yang melakukannya).

Sikap hidup dengan sengaja mengisolir diri dengan maksud supaya terhindar dari perbuatan/tindakan yang tidak di pasangkan. Dan dengan mengutamakan kehidupan yang miskin di dunia agar memperoleh imbalan "kekayaan" dari "Tuhan" dihari kemudian, disebut prinsip kamase-mase.

Kamase-mase adalah suatu konsepsi dengan muatan: lambusu', gattang, sa'bara, dan apisona atau jujur. Tegas sabar dan pasrah separah parahnya. Prinsip ini diselimuti oleh ikatan-ikatan emosi yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kepercayaan karena mengandung nilai-nilai keramat yang disertai "imbalan" dan "sanksi" yang juga keramat.

Dengan adanya keengganan semacam itu bukan berarti mereka tertutup tetapi lebih merupakan sikap sangat berhati-hati dan selektif. Sikap semacam inilah yang dianggap oleh orang luar sebagai "Kolok" dan mengakibatkan "keterbelakangan" ( sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan); dan ternyata dalam realitas sosial mereka sepintas memperlihatkan keadaan seperti itu.